Nomor 6
"Assalamualaikum..." ucap seseorang dari balik pintu.
"waalaikumusalam..., siapa yaa?" sahut ku sambil merapihkan susunan buku pelajaran buat besok di atas lemari.
"ini aku maryam..., aku mau kasih titipan... ke kamu dari kaka pembina. katanya kamu juga suka durian." suaranya tersendat dengan nafas. mungkin dia lari terburu-buru menuju ke kamarku.
"hah? durian? malam-malam gini bagi-bagi durian?" tanyaku heran sambil melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 23:00.
"iyaaa...." suaranya semakin kecil tapi lebih berat.
"ya sudah bawa masuk saja sini, kita makan bareng maryam" suruhku sambil menepuk-nepukkan kasur untuk kita duduk berdua.
namun, dua menit berlalu maryam tidak kunjung masuk.
Aku yang sedang menulis di layar Ipad terheran dengan maryam. "loh ko ia tak kunjung masuk" gumam ku sambil menatap pintu dengan heran
"maryam..., maryaamm!!!, kenapa tidak masuk?" panggilku
"hhhmmm..... hhhmmmm...." tarikan nafas berat terdengar di balik pintu
aku bangkit dari kasur menuju pintu berwarna putih dengan sekeliling dinding berwarna biru langit.
"ckreck...." suara pintu ku buka
aku dapati seseorang dengan bercak darah banyak dan terus keluar mengalir lewat perut yang ia genggam sangat kuat seperti menahan aliran darah.
"maaryaamm... kamu kenapa?" tanya ku sambil menopang tubuhnya dengan tangan
"tolong..... aa...kuu... bii.... laa...!, nnn....oo...mor 6!" guprak tubunya jatuh ke lantai dan tak sadarkan diri.
"maryam!!!!!" panggilku panjang dan keras.
nomor 6? nomor apa itu? nomor loker sekolah? lalu kenapa ia menawarkan durian di awal? ada apa?
hhmm, ku sampingkan dulu pesan dari maryam. ia harus segera mendapatkan pertolongan darurat.
tombol di sisi pintu ku tekan lalu suara alarm lantang memberi kabar darurat kepada yang lain.
semua berbondong menuju ke kamar ku dan mereka kaget serta heran kenapa ada maryam yang tergeletak di lantai dengan bercucuran darah banyak sekali.
mereka sesekali melihat maryam dengan kasian dan sesekali melihat ku dengan tatapan kecurigaan.
Comments
Post a Comment